Marianaramadhani's Blog

Apresiasi Prosa (Cerita Rakyat “Nisan Berlumuran Darah” dan Cerpen “Robohnya Surau Kami”

Hakikat Apresiasi Prosa

Kata apresiasi secara harfiah berarti ‘penghargaan’ terhadap suatu objek, hal, kejadian, atau pun peristiwa. Untuk dapat memberi penghargaan terhadap sesuatu, tentunya kita harus mengenal sesuatu itu dengan baik dan dengan akrab agar kita dapat bertindak dengan seadil-adilnya terhadap sesuatu itu, sebelum kita dapat memberi pertimbangan bagaimana penghargaan yang akan diberikan terhadap sesuam itu. Kalau yang dimaksud dengan sesuatu itu adalah karya sastra, lebih tepat iagi karya sastra prosa, maka apreciasi itu berati memberi penghargaan dengan sebaik-baiknya dan seobjektif mungkin terhadap karya sastra prosa itu. Penghargaan yang seobjektif mungkin, artinya penghargaan itu dilakukan setelah karya sastra itu kita baca, kita telaah unsur-unsur pembentuknya, dan kita tafsirkan berdasarkan wawasan dan visi kita terhadap karya sastra itu.

Seperti sudah dibicarakan, prosa atau prosa fiksi adalah sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas. Bahasa yang tidak terikat itu digunakan untuk menyampaikan tema atau pokok persoalan dengan sebuah amanat yang ingin disampaikan berkenaan dengan tema tersebut. Oleh karena itu, dalam apresiasi dengan tujuan tnembenkan penghargaan terhadap karya prosa itu, kita haruslah bisa “membongkar” dan menerangjelaskan hal-hal yang berkenaan dengan ukuran keindahan dan “kelebihan” karya prosa itu. Dengan demikian, penghargaan yang diberikan dapat diharapkan bersifat tepat dan objcktif. Suatu apresiasi sastra, menurut Maidar Arsjad dkk dilakukan melalui beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap itu adalah.

  1. Tahap penikmatan atau menyenangi. Tindakan operasionalnya pada tahap ini adalah membaca karya sastra (puisi maupun novel}, menghadiri acara deklamasi, dan sebagainya.
  2. Tahap penghargaan. Tindakan operasionalnya, antara lain, melihat kebaikan, nilai, atau
    manfaat suatu karya sastra, dan merasakan pengaruh suatu karya ke dalam jiwa, dan
    sebagainya.
  3. Tahap pemahaman. Tindakan opersionalnya adalah meneliti dan menganalisis unsur
    intrinsik dan unsur ektrinsik suatu karya sastra, serta berusaha menyimpulkannya.
  4. Tahap penghayatan. Tindakan operasionalnya adalah rnenganalisis lebih lanjut akan suatu karya, mencari hakikat atau makna suatu karya beserta argumentasinya; membuat tafsiran dan menyusun pendapat berdasarkan analisis yang telah dibuat.
  5. Tahap penerapan. Tindakan operasionalnya adalah melahirkan ide baru, mengamalkan
    penemuan, atau mendayagunakan hasil operasi dalam mencapai material, moral, dan
    struktural untuk kepentingan sosial, politik, dan budaya.

 

  1. Langkah-Langkah Apresiasi Prosa

 

Dalam berbagai buku sumber ada disebutkan langkah-langkah yang dilakukan dalam melaksanakan apresiasi sastra secara umum dan apresiasi karya sastra secara khusus. Yang disebut di bawah ini pada dasarnya tidak berbeda dengan yang disebutkan dalam buku-buku sumber itu.

 

  1. Pertama, membaca novel (cerpen, roman) itu secara tenang dan seksama. Kalau perlu bisa diiakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu.
  2. Kedua, melibatkan emosi ketika membaca prosa tersebut.
  3. Ketiga, mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting atau latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya.
  4. Keempat mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan novel (cerpen, roman) tersebut.
  5. Kelima, mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.
  6. Keenam, mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut berdasarkan telaah objektif terhadap unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.

 

  1. Apresiasi Prosa

Cerita Rakyat “Nisan Berlumur Darah” dan Cerpen “Robohnya Surau Kami”

 

Cerita Rakyat

Nisan Berlumur Darah

Mashor adalah pemuda yang bertempat tinggal di desa yang sekarang sekitar Pekauman dan Teluk Selong. Mashor berasal dari keluarga yang miskin, tetapi mempunyai pendidikan yang tinggi dan budi akhlaknya tinggi. Dia mempunyai keahlian membaca Al-Quran yang sangat indah didengar. Mashor sebagai orang yang tidak mampu ikut bekerja di rumah Fatimah sebagai pembantu.

Fatimah merupakan gadis dari keluarga sangat kaya. Mereka tinggal disebarang desa Mashor, mungkin sekarang daerah Kampung Melayu. Orang tuanya merupakan pedagang yang mempunyai hubungan dagang keluar daerah. Terutama daerah Singapura.

Mashor sebagai pembantu mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukannya seperti menimba air, memotong kayu, dan lain-lain. Hari demi hari, bulan demi bulan itu saja yang dilakukannya untuk membiayai hidup dan orang tuanya. Selama beberapa tahun Mashor bekerja dirumah kaya itu membuat Fatimah secara tidak sadar jatuh cinta kepadanya begitu juga sebaliknya. Tetapi karena adat yang menjaga ketat pertemuan antara perawan dengan bujangan membuat hubungan mereka tidak diketahui oleh keluarga.

Mashor sadar percintaan mereka pasti akan ditentang oleh keluarga Fatimah yang memegang adat keluarga. Mereka hanya akan menikahkan anak gadisnya hanya dengan orang yang sederajat dan mempunyai hubungan keluarga bangsawan dan pasti tentu harus pilihan keluarga. Tetapi Cinta di hati tidak bisa menolaknya. Tidak lama kemudian hubungan mereka mulai diketahui orang tua Fatimah. Betapa marahnya orang tua Fatimah mengetahui hal demikian. Mereka memutuskan untuk menjauhkan Mashor dari Fatimah dengan menugaskan Mashor menjaga kebun karet dan ladang keluarga Fatimah di seberang sungai.

Kebun karet ini berada jauh dari rumah Fatimah, menujunya hanya bisa dengan perahu “jukung” karena melewati sungai yang kecil. Mashor diberikan pondok kecil untuk berteduh dan melakukan kegiatan sehari-hari. Setiap hari dia bekerja merawat kebun karet tersebut. Setiap hasil karet hanya orang suruhan keluarga Fatimah saja yang mengambilnya. Dia tidak diberikan kesempatan untuk ke rumah sang Majikan. Fatimah mengetahui kabar Mashor hanya dengan meminta keterangan acil ijah, pembantu yang sering mengatarkan beras buat Mashor.

Suatu hari ada orang kaya bernama Muhdar yang masih ada hubungan keluarga dengan Fatimah badatang (melamar) ke rumah Fatimah dengan menggunakan satu buah kapal yang sangat besar sesuai dengan derajat kekayaan orang tersebut. Niat Muhdar disambut baik oleh keluarga Fatimah, mereka sepakat untuk mengadakan perkawinan besar-besaran. Hal ini tidak menjadi beban bagi Muhdar karena kakayaannya.

Fatimah sangat menentang niat orang tuanya yang menjodohkannya dengan Muhdar. Dia kenal betul perangai Muhdar. Walaupun kaya tetapi dia tidak mempunyai budi pekerti dan ilmu agama sebaik Mashor. Tetapi dia harus menjalankan dua pilihan yang sangat berat. Di satu sisi dia mempunyai pilihan dan cinta yang diyakininya membawa kebahagian di dunia dan di akhirat yaitu hidup bersama Mashor. Di satu sisi dia harus mengikuti perintah orang tuanya, dia sadar menyakiti hati orang tua adalah perbuatan yang durhaka. Akhirnya Fatimah pasrah terhadap perjodohan ini. Perjodohan yang dilandasi oleh harta, hubungan keluarga bukan oleh Cinta. Mashor yang berada jauh tidak mengetahui perjodohan ini. Semuanya yang datang ke gubuk Mashor bekerja selalu menutupinya. Mereka tidak ingin dipecat majikan jika menceritakan hal tersebut.

Akhirnya acara pernikahan dimulai, Muhdar datang dengan beberapa kapal besar yang membawa mas kawin atau jujuran. Ada kapal yang membawa isi kamar lengkap, ada kapal yang membawa perhiasan emas dan batu permata, ada kapal yang membawa pakaian wanita yang sangat indah-indah. Bagi mereka semua itu hal biasa, karena bisnis dagang keluarga ini ke Singapura berupa batu permata dan kain. Mereka mempunyai banyak pelanggan di Singapura. Pada jaman tersebut sungai Martapura digunakan sebagai jalur perdagangan. Kapal-kapal besar pedagang Martapura sering berangkat membawa barang dagangan ke Pulau Jawa dan Sumatera hingga Singapura dan Malaysia. Sesuai dengan jalur perdagangan dunia antara Malaysia dan pulau Sumatera.

Pada malam harinya ketika semua kelelahan. Muhdar dan Fatimah tidur di kamar penganten. Belum sempat malam pertama itu terjadi ternyata rumah Fatimah terbakar akibat api dapur lupa dimatikan. Muhdar lari keluar dengan segera tanpa memperdulikan Fatimah. Api semakin membesar Fatimah terjebak di dalamnya. Mashor yang belum tidur melihat dari kejauhan warna merah di langit yang menadakan kebakaran. Dia yakin kebakaran itu berada di rumah Fatimah. Tanpa peduli aturan majikannya yang tidak memperbolehkannya mendekati rumah dia langsung berlari mengambil jukung. Setelah sampai di rumah Fatimah dia diberitahu bahwa Fatimah terjebak di dalamnya. Dengan kekuatan Cintanya dia terobos api dan menemukan Fatimah pingsan karena terlalu banyak menghirup asap. Dia angkat Fatimah melewati api yang besar. Dengan badannya dia melindungi Fatimah dari api dan kayu rumah yang berjatuhan. Setelah dia bawa keluar Mashor disambut Muhdar dengan merebut Fatimah dari pangkuan Mashor. Dengan demikian Mashor akhirnya mengetahui perkawinan tersebut. Belum sempat dia mendapatkan penjelasan, Mashor pingsan karena terlalu banyak luka bakar yang dialaminya. Keluarga Fatimah memerintahkan agar mashor dirawat kembali di gubuknya tempatnya bekerja. Dan menginginkan agar peristiwa heroic ini jangan sampai diketahui Fatimah.

Subuh harinya mashor tidak bisa bertahan. Dia meninggal karena luka yang terlalu parah. Setelah sholat dzuhur dia dimakamkan di daerah perkebunan karet tersebut. Atau tepatnya sekarang berada di desa Tungkaran. Makam Mashor sederhana dengan nisan ulin. Untuk mencegah babi hutan kuburannya juga dipagar bambu. Semuanya berada di pemakaman, baik teman-teman Mashor maupun keluarga Fatiamah. Tetapi Fatimah tidak mengetahui kematian ini. Dia masih lemah di kamar rumah Muhdar. Dia masih bertanya di dalam hati bagaimana dia bisa selamat, suaminya sendiri meninggalkannya saat kebakaran itu terjadi.

Sewaktu malam hari pertanyaan itu dikeluarkannya pada Acil Ijah yang sejak kecil merawatnya. Acil Ijah tahu betul perasaan Fatimah kepada Mashor. Karena tidak dapat mendustai tuannya yang sejak kecil dia pelihara tersebut akhirnya dia ceritakan peristiwa kebakaran itu.

Fatimah yang sangat rindu Mashor akhirnya menanyakan keberadaan Mashor. Dengan sangat hati-hati Acil Ijah menceritakan kematian Mashor dan memberitahukan letak kuburannya. Dia berjanji menemani Fatimah besok untuk ziarah ke kuburan Mashor.

Fatimah Sangat terpukul hatinya mengetahui pemuda yang melindungi dan dicintainya telah tiada. Menangislah Fatimah sejadinya. Setelah semua orang terlelap tidur, jam 3subuh tanpa sepengetahuan yang lain Fatimah keluar rumah. Dia tidak dapat menyimpan perasaan rindu dan dukanya. Tanpa menunggu siang dia bertekad harus menemukan ke kuburan Mashor. Dia tidak yakin kekasihnya sudah meninggal jika tidak menemukan kuburannya langsung. Dia seberangi sungai Martapura dan berjalan menyisir jalan setapak. Dia masih ingat letak kebun karet keluarganya ketika ayahnya pernah mengajak sewaktu kecil. Malam itu hari hujan dengan deras tetapi tidak menyurutkan hati Fatimah, di dalam hatinya hanya ada satu nama Mashor. Dipikirannya hanya ada satu wajah Mashor, pemuda yang sangat mengerti dirinya. Setelah tiba di kebun karet keluarganya, Fatimah tanpa sadar dan mungkin karena ilusi yang muncul karena obsesinya bertemu Mashor, dia melihat Mashor berdiri tersenyum kepadanya di tengah rintikan hujan. Tanpa berpikir panjang Fatimah berlari ingin memeluk tubuh kekasihnya melepaskan segala kerinduannya. Fatimah menabrak tubuh lelaki itu hingga terjatuh tanpa disadari pagar yang terbuat dari bambu yang melindungi kuburan Mashor menusuk tubuh Fatimah tepat di dadanya. Darah mengucur dan menetes di atas kubur Mashor dan melumuri nisannya. Fatimah meninggal dengan senyum dia yakin menemukan cintanya.

Unsur-Unsur Intrinsik

Tema

Ketulusan Cinta

 

Alur

Alur adalah rangkaian cerita atau jalan cerita yang disusun secara runtut. Dalam prosa alur terbagi menjadi tiga, yaitu: maju, mundur, dan campuran.

  • Alur maju, yaitu alur atau jalan cerita yang disusun berdasarkan urutan waktu (naratif) dan urutan peristiwa (kronologis).
  • Alur mundur, yaitu alur atau jalan cerita yang mengembalikan cerita ke masa atau waktu sebelumnya.
  • Alur campuran adalah perpaduan antara alur maju dan alur mundur.

 

Adapun dalam cerita Nisan Berlumur Darah ini alur yang digunakan adalah alur maju karena bercerita dari bagaimana Fatimah dan Mashor bertemu, saling jatuh cinta dan sampai akhirnya mereka meninggal dunia.

 

Tokoh dan Penokohan

  1. Mashor: Seorang pemuda miskin biasa yang sangat ulet, gigih dan rajin bekerja. Dia adalah sosok laki-laki yang setia terhadap wanita yang dicintainya. Tentangan orang tua Fatimah yang tidak menyetujui hubungan mereka tidak membuat Mashor melupakan perasaannya pada Fatimah. Bahkan dia rela mengorbankan nyawa dan hidupnya demi menyelamatkan nyawa Fatimah.

Tokoh: protagonis

 

  1. Fatimah: Wanita yang terpaksa harus mengorbankan cintanya demi kebahagiaan kedua orang tuanya agar tidak dianggap sebagai anak yang durhaka. Pernikahannya dengan Muhdar tidak membuatnya menghilangkan rasa cintanya terhadap mashor. Setelah Mashor meninggal pun Fatimah tidak dapat melupakan Mashor  bahkan Fatimah bahagia karena di akhir hidupnya bisa bertemu dengan Mashor walau kisah cinta mereka berakhir tragis.

Tokoh: protagonis

 

  1. Muhdar: Lelaki kaya raya yang dijodohkan dengan Fatimah. Kekayaannya membuat orang tua Fatimah tidak bisa menolak menerima pinangan Muhdar sehingga membuat Fatimah dan Mashor harus berpisah. Tetapi Muhdar adalah sosok laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Dia tega meninggalkan Fatimah yang saat itu sedang terancam nyawanya demi menyelamatkan nyawanya sendiri.

Tokoh: antagonis

 

Latar
Latar memiliki pengertian keterangan, baik mengenai waktu, ruang dan suasana, terjadinya peristiwa atau cerita. Di dalam karya sastra latar berfungsi menghidupkanatau mendukung peristiwa yang disajikan.

Macam macam latar yang dapat kita temukan dalam karya sastra, sebagai berikut :

  1. Latar waktu yaitu keterangan tentang kapan peristiwa dalam novel atau karya tersebut terjadi . misalnya pagi hari, malam hari, dua hari yang lalu.
  2. Latar ruang atau tempat yaitu latar yang menunjukkan keterangan tempat atau peristiwa  itu terjadi. Misalnya di dalam bus, di pantai, di kota Yogya.
  3. Latar suasana yaitu keterangan yang menggambarkan suasana yang melingkupi peristiwa yang terjadi . Misalnya suasana sedih, gembira, romantis.

 

Adapun yang menjadi latar dalam cerita tersebut adalah

  1. Latar waktu :

Selama beberapa tahun, Mashor  bekerja di rumah …

Setiap hari, dia bekerja merawat kebun…

Pada malam harinya, ketika semua kelelahan.

Subuh harinya, Mashor tidak bisa bertahan.

 

  1. Latar ruang atau tempat :

v  Di desa sekitar Pekauman dan Teluk Selong.

v  Daerah Kampung Melayu.

v  Kebun karet  keluarga Fatimah

 

  1. Latar suasana

v  Suasana romantis tergambarkan ketika perasaan saling jatuh cinta dialami oleh Mashor dan Fatimah.

v  Suasana sedih dan mencekam ketika orang tua Fatimah marah karena mengetahui hubungan putrinya dengan Mashor yang miskin, lalu menjauhkan Fatimah dari Mashor, kekasih hatinya.

v  Suasana bahagia terjadi ketika lamaran Muhdar diterima oleh keluarga Fatimah, dan pesta pernikahan akan digelar secara besar-besaran.

v  Suasana sedih juga terjadi karena Fatimah dijodohkan oleh orang yang tidak ia cintai, tetapi ia tidak ingin dianggap sebgai anak durhaka karena menolak perintah orang tuanya.

v  Suasana panik tergambar ketika Mashor megetahui rumah Fatimah terbakar dan Fatimah ada didalamnya.

v  Suasana sedih dan mengharukan ketika pemakaman Mashor, dan ketika Fatimah tahu  bahwa Mashor sudah meninggal. Kemudian Fatimah pergi ke kuburan Mashor tanpa sengaja ketika melihat bayangan Mashor, Fatimah terjatuh dan dadanya menancap ke nisan kuburan Mashor. Fatimah tewas seketika.

 

 

 

 

Sudut Pandang

Sudut pandang yang digunakan pada cerpen Nisan Berlumur Darah yaitu sudut pandang orang ketiga,yang menceritakan kembali cerita cerpen tersebut.

 

Gaya Bahasa

Cerita Nisan Berlumur Darah adalah cerita rakyat yang ada di tengah – tengah masyarakat, khususnya masyarakat Martapura Kalimantan Selatan. Perlu kita ketahui bahwa cerita tersebut tersebar bukan dari teks melainkan dari mulut ke mulut. Tetapi seiring dengan perkembangannya cerita tersebut akhirnya dibuat dalam bentuk tulisan atau teks, dengan menggunakan bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami.

 

Amanat

Sesuatu keputusan yang dipaksakan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik, apalagi jika menyangkut perkara serius seperti pernikahan. Pernikahan yang didasarkan pada kepentingan duniawi seperti harta, tidak akan bertahan lama.pernikahan haruslah dilandasi dengan sesuatu yang sifatnya kokoh, yaitu keimanan dengan merujuk kepada kesamaan visi dan misi dalam beerumah tangga, tidak bisa didasarkan pada harta semata, karena itu hanya bersifat sementara dan tidak abadi. Apabila kita memiliki pandangan atau pilihan sendiri, kita harus mempertahankannya dan memperjuangkan keyakinan akan kebahagiaan yang ingin kita raih agar tidak ada penyesalan setelahnya.

 

 

Unsur-Unsur Ekstrinsik

Nilai Keagamaan

Nilai agama yang dapat diambil dari dalam kisah ini adalah betapa ketatnya peraturan adat yang menentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini sesuai dengan hukum pergaulan yang ada dalam agama Islam. Diluar dari isi cerita, kandungan adat istiadat pada kisah Nisah Berlumur Darah sangat kental terasa karena hubungan antara tokoh Mashor dan Fatimah ditentang oleh aturan adat sampai akhirnya Fatimah dijodohkan dengan tokoh Muhdar. Hal ini berkaitan erat dengan aturan agama bercampur adat yang tidak membebaskan seorang perempuan dalam memilih jodohnya sendiri.

 

Nilai Pendidikan

Ada dua hal yang menjadi nilai pendidikan dalam cerita ini. Pertama, seorang anak mempunyai kewajiban untuk patuh kepada orang tuanya. Walau Fatimah tidak ingin menikah dengan Muhdar laki-laki pilihan orang tuanya tetapi Fatimah tetap melaksanakan apa yang diinginkan kedua orang tuanya. Fatimah harus menikah dengan Muhdar, laki-laki yang tidak dicintainya dan harus melupakan Mashor laki-laki yang dicintainya. Memang penderitaanlah yang di rasakan Fatimah tetapi itulah wujud kebaktian Fatimah kepada orang tuanya. Kedua, setiap orang tua tidak harus memaksakan kehendaknya, apalagi menyangkut dengan masa depan anak itu sendiri. Hargailah anak, karena anak juga memiliki hak untuk bahagia. Dalam cerita ini orang tua Fatimah sama sekali tidak menghargai Fatimah sebagainya. Memang anak adalah hak penuh orang tua dan anak wajib patuh kepada orang tuanya , tetapi tidak seharusnya hak penuh tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi sedangkan hak anak untuk bahagia dirampas begitu saja. Walaupun anak mempunyai kewajiban untuk selalu patuh kepada orang tua, hendaknya segala keputusan dirundingkan kepada anak, apalagi berkaitan dengan hidup ke depan anak itu sendiri. Dalam cerita ini anaklah yang menjadi korban keegoisan orang tua. Fatimah sangat menderita karena menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Dan orang tua Fatimah harus berbesar hati karena Fatimah harus meninggal tertusuk pagar bambu, karena sebenarnya orang tua Fatimah lah yang salah dalam semua kejadian itu.

 

Nilai Kebudayaan

Nilai kebudayaan yang dapt diambil dari cerita ini adalah bahwa adat budaya setempat melarang atau menjaga ketat pertemuan antara perawan dengan bujangan. Selain itu adat setempat juga memiliki kepercayaan bahwa keluarga bangsawan hanya akan menikahkan anak gadisnya dengan orang yang sederajat dan mempunyai hubungan keluarga bangsawan dan tentunya orang pilihan keluarga.

Hal yang menarik juga terdapat dalam cerita ini, yaitu adanya budaya ketika seorang lelaki melamar perempuan pada masyarakat banjar, pihak lelaki haru menyerahkan jujuran yang dapat berisi perhiasan emas atau permata serta pakaian.

Nilai Sosial
Kekuatan cinta antara tokoh Fatimah dan Mashor yang terhalang oleh status social .Tingginya tembok social yang memisahkan keduanya serta pandangan yang orang-orang disekitar mereka.Status social menjadi panghalang utamadalam kisah cinta Mashor dan Fatimah .Dalam kisah cerpen tersebut orang tua Fatimah memandang Mashor adalah seorang lelaki miskin yang tak pantas untuk putrid mereka yaitu Fatimah.Orang tua Fatimah menjodohkan anaknya dengan Muhdar yang jauh lebih kaya dari Mashor.

 

 

 

Cerpen

Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah meminta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggalah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.
Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya. Sekali hari aku datang pula mengupah kepada Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”

“Ajo Sidi.”

“Ajo Sidi?”

Kakek tidak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang2-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pemeo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin berkelakukan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami sebut pemimpin katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek akan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi,

“Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggoroknya.”

“Kakek marah?”

“Marah? Ya kalau aku masih mudah, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek,

“Bagaimana katanya, Kek?”

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku,

“Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah di sini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.
“Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. ‘Alhamdulillah’ kataku bila aku menerima karunia-Nya. ‘Astagfirullah’ kataku bila aku terkejut. ‘Masya Allah’, kataku bila aku kagum. Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku.

“Ia katakan Kakek begitu, Kek?” “Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.” Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi. Tapi aku lebih ingin mengetahui apa cerita Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu,’ kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah di mana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘Apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.

‘Lain?’

‘Segala tegah-Mu kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh oleh dosa-dosa yang dihumbalangkan iblis laknat itu.’

‘Lain?’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi:

‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah yang Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang di antaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tidak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung pada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita peroleh,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Dan Tuhan bertanya,

‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, memprogandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’

Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?’
‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak orang lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’
‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’
‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau tetap rela melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’
‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!’

Semua pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak istrimu sendiri, sehingga mereka kucar-kacir selamanya.

Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.’

“Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kaget.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.
Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh

perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab,

“dan sekarang ke mana dia?”

“Kerja”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya, dia pergi kerja.”

 

Unsur-Unsur Intrinsik

Alur

Alur cerpen ini adalah alur mundur karena ceritanya mengisahkan peristiwa yang telah berlalu yaitu sebab-sebab kematian kakek Garin.  Adapun alur mundurnya mulai muncul di akhir bagian awal dan berakhir di awal bagian akhir

 

Tokoh dan Penokohan

  1. Aku: Sosok yang baik. Pencerita dari segala keseluruhan isi cerita walupun tokohnya tidak terlalu dominan di dalam peristiwa yang terjadi pada isi cerita ini.

Tokoh: protagonis

 

  1. Kakek: Sosok kakek tua yang menghabiskan hampir separuh hidupnya untuk tinggal dan mengabdi demi keimanannya pada sebuah surau tua. Tetapi kedatangan tokoh Ajo Sidi suatu hari membuat Kakek menjadi terpukul atas perkataan Ajo Sidi yang tidak dapat disangkal-sangkal kebenarannya. Kakek pun akhirnya memilih mengakhiri hidupnya karena dia merasa segala bentuk keimanannya sudah tidak berguna akibat semua kelalaian yang telah diperbuatnya dimasa mudanya.

Tokoh: antagonis

 

  1. Ajo Sidi: Seorang pembual kampung yang terkenal ulung bualannya tetapi bualan Ajo Sidi selalu bualan yang memang pantas diberikan kepada mereka-mereka yang menerima bualannya. Suatu hari Ajo Sidi datang menemui Kakek dan bercerita mengenai penghitungan Allah di hari akhir kelak. Betapa kejamnya cerita Ajo Sidi sehingga Kakek pun merasa kebenaran dari bualan Ajo Sidi sudah membuatnya pasrah sehingga Kakek pun memilih mengakhiri hidupnya.

Tokoh: protagonis-antagonis (campuran)

Latar

  1. Latar waktu :

Beberapa waktu yang lalu Tuan datang ke kota…

Sudah bertahun-tahun ia menjadi garin.

Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan…

  1. Latar ruang atau tempat:

v  Kampung kecil

v  Surau tua

v  Neraka

  1. Latar suasana:

v  Suasana marah ketika kakek menceritakan bualan Ajo Sidi kepada tokoh aku dalam cerita tersebut.

v  Suasana haru ketika kakek mendapati sebuah makna yang tersimpan dari bualan ajo Sidi terhadap dirinya diakhir cerita Ajo Sidi. ( dan aku melihat mata kakek berlinang. Aku jadi belas kasih padanya.)

v  Suasana tegang dan penuh kecemasan, ketika haji Saleh dimasukkan Tuhan ke neraka. Dan dengan penuh harap ia meminta Tuhan memasukkan ia ke surga, setelah ia dan kawan-kawannya berdemonstrasi dihadapan Tuhan untuk meninjau ulang kembali keputusan yang telah Tuhan ambil.

v  Suasana penuh keheranan dari tokoh aku terhadap Ajo Sidi yang tidak bertanggung jawab atas meninggalnya kakek.

 

Sudut Pandang

Pada cerpen di atas menggunakan sudut pangdang orang ketiga tunggal. Pengarang menceritakan cerpen dengan gaya ke aku an. Pengarang terlibat langsung dalam cerita sebagai tokoh aku,dan menceritakan kembali cerita tersebut.

 

Gaya Bahasa

Cerpen Robohnya Surau Kami ditulis pada periode 1945-1953, dimana bangsa Indonesia sudah mengalami kematangan dalam berbahasa. Sehingga pada cerpen ini bahasanya mudah dipahami, akan tetapi pada bagian tertentu dalam cerpen ini masih ada pengaruh bahasa melayu yang dikarenakan latar belakang penulis yang merupakan orang Sumatra (Melayu).

 

Amanat

Sebagai hamba Allah yang taat, kita haruslah mengikuti segala perintah dan menjauhi segala laranganNya, berbadah dengan penuh kesungguhan. Namun hal tersebut tidak serta merta menuntut kita untuk beribadah tanpa menghiraukan kehidupan duniawi. Keseimbangan diantara keduanya adalah sebuah keharusan yang semestinya dipenuhi tanpa menjadikan yang satu lebih penting daripada yang lainnya, karena keridhaan Allah dicapai dengan ketaatan menjalankan perintahNya dalam aktifitas di dunia yang akan membawa kebaikan di akhirat. Manusia diciptakan dengan tujuan dan aturan yang telah ditetapkan, yaitu beribadah, dalam artian semua aktifitas yang sesuai dengan aturan Allah akan bernilai ibadah di dalamnya. Jadi, akan sangat salah jika prioritas ibadah diartikan hanya hubungan kita dengan sang Khalik, tetapi juga ada kesadaran dalam diri sebagai manusia dan interaksinya dengan alam, dan kehidupan sesamanya.

 

Unsur-Unsur Ekstrinsik

Nilai Keagamaan

Banyak sekali nilai agama yang dapat dipetik dari kisah ini. Yaitu pentingnya menyeimbangkan antara kewajiban di dalam dunia maupun di akhirat. Jika di telisik dari kebahasaan, kisah Robohnya Surau Kami lekat sekali dengan nuansa keagamaan yang tidak hanya mewajibkan manusia untuk mengejar kebahagiaan di akhirat saja, tetapi kebahagiaan di dunia pun harus didapat agar keduanya dapat berjalan seimbang. Banyak orang yang mengejar dunia tetapi akhirnya lupa dengan akhirat, begitu pula sebaliknya. Padahal Tuhan sudah memberi manusia rahmat yang berlimpah tetapi karena manusia itu terlalu sibuk memikirkan kepentingan akhiratnya sendiri, manusia itupun menjadi lupa pada nasib orang-orang terdekatnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Araf bahwa Allah memerintahkan manusia untuk bekerja demi dunianya tetapi tidak lupa beribadah demi akhiratnya. Kedua hal ini sangat penting karena Allah sudah memberikan karunia yang melimpah kepada manusia, kewajiban utama seorang  manusia selain beribadah kepada Nya juga untuk memakmurkan dirinya sendiri beserta keluarganya. Bekerja juga ibadah. Jika keduanya tidak berjalan justru ibadah pun tidak akan seimbang.

 

Nilai Pendidikan

Kita tidak boleh putus asa dalam menghadapi kesulitan tetapi harus selalu berusaha dengan sekuat tenaga dan selalu berdoa. Hal ini menjadi pendidikan bagi kita karena tidak ada gunanya berputus asa dalam menghadapi berbagai permasalahan. Masalah akan menjadi masalah berikutnya apabila kita berputus asa dan tidak mau berusaha untuk menyelesaikannya. Berusahalah sebisanya karena tidak ada hal yang sia-sia dalam berusaha tersebut. Pasti ada hikmah dalam setiap permasalahan.

 

Nilai Kebudayaan

Ada sebuah daerah di Indonesia yang memiliki budaya religi misalnya daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, para tokoh kampung yang kaya dapat dikenali dengan berapa kali ia naik haji. Nilai-nilai religius yang tertanam begitu kuat, membuat mereka berpikir bahwa hidup hanya digunakan untuk beribadah saja tanpa dibarengi dengan bekerja. Padahal seharusnya hubungan manusia terbagi menjadi 2 yaitu vertikal dan horizontal, dimana seseorang diwajibkan beribadah kepada Tuhan tanpa lupa dengan hubungannya dengan masyrakat sekitar.

 

Nilai Sosial

Sebagai manusia tidak hanya dituntut untuk taat kepada Tuhan saja.Hubungan terhadap manusia juga tak kalah penting.Bagaimana sikap manusia terhadap manusia lain dalam kehidupan masyarakat.Pada cerpen di atas  tokoh Hj.Saleh adalah orang yang sangat taat beribadat,namun ia tidak mempedulikan kehidupan bermasyarakat,ia menelantarkan anak dan istrinya demi mengejar kehidupan akhirat. Ia hanya mengerjakan hal-hal yang menurutnya disukai oleh Tuhan dan meninggalkan kegiatan bermasyarakat.

Kesimpulan

Apresiasi sastra hakikatnya sikap menghargai sastra secara proporsional (pada tempatnya).

Pengertian prosa atau prosa fiksi adalah sebuah bentuk karya sastra yang disajikan dalam bentuk bahasa yang tidak terikat oleh jumlah kata dan unsur musikalitas.

Langkah –  langkah dalam mengapresiasi sebuah prosa yaitu :

  1. Pertama, membaca novel (cerpen, roman) itu secara tenang dan seksama. Kalau perlu bisa diiakukan dua tiga kali. Biasanya sebuah karya prosa yang baik akan mengundang kita untuk membacanya berkali-kali karena kita memperoleh kenikmatan dari pembacaan itu.
  2. Kedua, melibatkan emosi ketika membaca prosa tersebut.
  3. Ketiga, mencoba menelaah apa tema cerita tersebut, dan mengetahui bagaimana tema itu disajikan, menelaah plot, penokohan, setting atau latar, dan berbagai unsur instrinsik lainnya.
  4. Keempat mencoba menelaah amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang dengan novel (cerpen, roman) tersebut.
  5. Kelima, mencoba menelaah penggunaan bahasa yang digunakan dalam karya prosa tersebut melihat kekuatannya, dan mencari kekurangannya.
  6. Keenam, mencoba menarik kesimpulan akan nilai karya prosa tersebut berdasarkan telaah objektif terhadap unsur intrinsik dan unsur ekstrinsiknya.

« CORETAN KULIAH


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: