Marianaramadhani's Blog

Buku Harian Amanda

pada Juni 29, 2011

“Kenapa harus pindah rumah, Ma?” protesku.

“Mama itu sudah lama menginginkan rumah yang lingkungannya tenang dan nyaman, tidak seperti selama ini.”

“Tapi, Ma! Pekapuran Raya dan Kelayan apa bedanya? Bukankah Pekapuran Raya itu sama juga dengan Kelayan? Bising, padat penduduk, dan tingkat keamanannya juga.”

“Tidak juga, rumah yang mama dan abah beli memang di Kelurahan Pekapuran Raya tapi lingkungannya nyaman. Rumahnya berada di kompleks yang tidak padat penduduk, pokoknya berbeda dengan rumah kita selama ini.”

Sulit memang! Aku merasa rumah ini rumah yang nyaman dan tidak pernah terpikir untuk pindah. Walau di kawasan yang padat, semua baik-baik saja. Tak mau rasanya meninggalkan kenangan yang terlalu indah di rumah ini. Kenangan bersama kakek dan nenek, teman-teman, dan masih banyak lainnya. Aduh.. tidak mau deh rasanya pergi dari semua itu.

Kalau dipikir wajarlah ayah dan ibuku mau pindah dari sini, kenyataanya bukan milik mereka pribadi. Rumah ini adalah rumah warisan orang tua mamaku karena saudara mama yang lain mau mendapatkan bagian sedangkan kami tidak bisa mengangsur dengan harga yang disepakati keluarga besar akhirnya kami harus pindah dan rumah harus dijual. Rumah yang malang! Apakah itu akhir dari sebuah kenangan? Menyedihkan.

Warisan memang rumit, uang dan harta selalu dicintai orang, tetapi bagaimana dengan kenangan dari rumah itu? Sepertinya mereka sama sekali tidak menghargainya. Andaikan mereka bisa berpikir rasional, kenangan tidak ternilai dengan uang. Kenyataannya mereka sudah tidak mempedulikannya lagi dan apalah arti seorang aku yang hanya mahasiswa biasa yang masih dianggap anak kecil dan belum mengerti apa-apa. Sekuat tenaga aku berbicara mengenai kenangan-kenangan itu hasilnya tetap nol besar. Rumah dijual dan masing-masing ahli waris sudah mendapatkan bagiannya. Dengan berat hati kami harus meninggalkan rumah ini.

***

“Selamat datang di rumah yang baru!” ayah begitu girang

Melihat mereka bahagia seperti itu aku ikut senang juga walau sedikit. Lagi-lagi aku tidak begitu rela untuk tinggal di rumah ini. Dilihat dari depan lumayan bagus dan cukup nyaman untuk keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan dua orang anak. Rumah dengan halaman yang lumayan luas di banding rumah-rumah di sampingnya membuat mama senang karena akan menunjang kegemarannya berkebun.

Rumah yang memiliki tiga buah kamar, ruang tamu yang sejajar dengan ruang keluarga terlihat sangat sederhana dan tidak membuat repot penghuninya. Awal yang baguslah pikirku. Entah mengapa ayah memilihkan sebuah kamar yang paling dekat dengan dapur untukku. Tidak tahu alasannya apa, aku mengikut saja. Kamar paling depan digunakan untuk ruang kerja dan kamar disebelahnya digunakan ayah dan ibuku. Mungkin kamar paling depan tidak akan digunakan untuk ruang kerja andaikan kakakku masih tinggal bersama kami. Ayah dan ibu mempunyai dua anak, satu laki-laki yaitu kakakku dan satu perempuan yaitu aku, Risa! Sekarang kakakku sudah berkeluarga dan tinggal bersama istrinya jadi kami hanya tinggal bertiga.

Rumah baru kami tidak begitu kotor, sepertinya baru saja ditinggalkan penghuninya. Satu keuntungan, lumayan bisa menghemat tenaga jadi perlu menata barang-barang saja. Beberapa saat berlalu, aku sama sekali tidak terpikir untuk melihat kamar pilihan ayah. Entah ada apa dengan diriku, tetapi aku harus tinggal di kamar itu. Krek..treeet..!! aah.. pintu yang berisik, aku rasa rumah ini tidak begitu tua tetapi pintunya seakan berumur puluhan tahun. Aku tersenyum kecil saat melihat kamar ini karena lebih besar daripada kamar dulu. Semoga  aku bisa betah di kamar ini. Puas melihat kamar dari depan pintu, aku tergerak melangkah masuk dan saat kaki kanan menginjak lantai kamar itu.

“Kau harus menolongku!”

“ Harus.. harus..!”

Aaaaah… tidaaaak! Ada apa ini? Suara siapa tadi? Apa aku mimpi? Tentu tidak karena aku masih berdiri dengan kaki kanan menginjak lantai kamar. Nafasku terdengar seperti orang selesai lari. Tanganku gemetar seakan aku baru membunuh orang. Sulit dipercaya, pertanda apa ini? Mungkin aku terlalu banyak menonton acara mistis. Aku meyakinkan diri.

Dengan keberanian penuh aku memasuki kamar. Sedikit bersyukur karena kejadian tadi tidak terjadi dan dapat dipastikan semua itu hanya halusinasi dengan sekuat tenaga aku merebahkan diri di kasur yang disediakan ayah. Aku rasa kasur ini baru, tetapi rasa takutku melebihi dari rasa empuk kasur baru. Sungguh, aku takut!

Tinggal di kamar ini sepertinya hanya harapan belaka, menjelang malam pertama di rumah baru dan kamar baru terasa aneh. Ayah dan ibuku sepertinya baik-baik saja, ada apa dengan aku? Sebenarnya sangat bosan dengan pertanyaan ini, tetapi aku tidak bisa menjawabnya. Apa karena suara aneh di kamar tadi? Tampaknya iya, tapi bukankah itu hanya halusinasi? Tidak deh, nyata sekali suara tadi. Aah.. sebenarnya aku ragu mengakuinya sebagai halusinasi saja.

 

Krek.. treeet! “Aah.. siapa itu??”

“Widih.. berlebihan! Suara pintunya mengagetkan yah? Nanti mama minta ayah memperbaikinya. Waktunya makan malam, ayah sudah nunggu”

Jam dinding menunjukan jam 10 malam. Artinya makan malam tadi sudah dua jam berlalu. Aku sangat ngantuk, tetapi enggan masuk kamar. Masa tidur di depan TV atau kamar mama? Jelas aku lebih enggan. Mataku sudah berat sekali, tidak mungkin ditahan lagi. Baiklah, aku memberanikan diri masuk kamar. Lah.. kok gelap? Perasaan sebelum keluar tadi lampu kamar sudah dinyalakan. Dengan cepat aku menyalakan lampu dengan menekan ke arah on pada saklar. Ada yang tidak beres ini? Tetapi mengapa harus aku dan kamar ini saja? Andai aku punya banyak uang, tentunya tidak perlu pindah dari rumah kakek dan kejadian aneh ini tidak akan ada. Pikiranku kacau dan menyalahkan semua yang telah terjadi, tetapi semua telah terjadi. Aku harus punya kamar aneh ini dan kejadian tidak masuk akal sepertinya akan terus terulang.

“Aaargh.. aku tidak peduli! Andaikan kamar ini ada setannya,  aku harap cara menakutinya tidak seperti setan yang ada dalam film-film horor Indonesia. Terlalu lumrah, berbedalah sedikit. Tidak lucu!!!” aku sok berani.

Bruuuukkk… sebuah buku yang tidak aku kenal jatuh ke lantai. Mengejutkan memang dan sepertinya aku akan pingsan.

***

            Aku merasa di sekelilingku sudah mulai terang. Perlahan aku membukakan mata dan memang benar dibalik tertutupnya korden, sebuah jendela tidak bisa menutupi cahaya matahari. Astaga, aku ketiduran di lantai. Tunggu, sepertinya aku tidak ketiduran, tetapi pingsan karena kaget sebuah buku yang tidak tahu dari mana asalnya tiba-tiba jatuh di lantai. Gila! lama-lama aku bisa gila. Aku lihat posisi buku tersebut tidak berubah, ingin mengambil tapi ragu. Ah.. aku mau semuanya berakhir. Lagi-lagi, dengan yakin aku mengambil buku itu. Ingin membukanya langsung, tetapi aku urungkan. Aku harus kuliah pagi ini dan sepertinya  akan terlambat lagi.

Ternyata benar, sesampainya di depan kelas dosen sudah duduk dengan tenang di kursinya. Aku hanya tersenyum kecut saat memandangnya sambil melangkah cepat ke kursi. Mungkin inilah potret mahasiswa zaman sekarang.

Mungkin ini potret kedua mahasiswa zaman sekarang, dosen menjelaskan materi perhatian mahasiswa beragam entah ke mana. Ada yang ngobrol walau pelan, baca novel berlapiskan buku teks,  facebook-an seolah-olah mengetik materi dari dosen, dan ada yang duduk tenang seperti memperhatikan dosen padahal dia bingung. Siapakah dia? Sepertinya aku. Aku merasa penjelasan dosen di depan seperti sebuah film bisu. Bibir bergerak seolah berbicara, namun tidak ada suaranya. Kadang berdiri, duduk, dan berdiri lagi. Rempong cint..! Aku tidak tahu inti dari penjelasan beliau.

Buku dan suara-suara aneh kemarin seperti  mengejarku. Apa maksud di balik semua ini? Apabila aku diam dan tidak menghiraukannya pasti akan menganggu kehidupanku, lama-lama bisa rawat jalan dengan psikiater. Semua bukan halusinasi, tetapi nyata. Buktinya buku itu benar-benar ada. Andaikan aku mimpi kejatuhan buku, tentu bukunya tidak akan ada. Mungkin semua ini akan berakhir dengan buku itu.

Tidak seperti biasanya, aku langsung pulang setelah kuliah. Tugas yang sudah menumpuk semakin tak aku hiraukan. Sampai di rumah aku langsung masuk kamar dan mengambil buku itu. Takutku memang sulit dihilangkan, tetapi keinginan tanpa dihantui hal-hal aneh melebihi dari rasa takut itu. Perlahan aku membuka buku itu. Dilihat dari cover­-nya tentu tidak bisa diterka. Buku itu berbalutkan sejenis kain hitam polos dan tidak bertuliskan apapun. Tepatnya seperti agenda yang biasa digunakan oleh bapak-bapak.

Perlahan aku membukanya, sedikit terkejut dengan apa yang aku lihat. Buku itu ternyata sebuah buku harian dan pemiliknya seorang gadis yang berusia 17 tahun. Amanda, ya itu lah nama pemiliknya. Aku rasa dia memiliki selera yang buruk, masa buku harian untuk seumuran dia bermodelkan buku hitam seperti ini. Cukup aneh! Tetapi itu tidak penting, aku harus membaca buku ini sampai akhir. Semoga saja buku ini bisa membantuku untuk menghilangkan kejadian aneh akhir-akhir ini.

Lembar pertama, lembar kedua, catatan seorang remaja pada umumnya. Kehidupan di sekolah, di rumah, dan sebagainya. Aku sedikit pesimis dengan apa yang aku lihat. Sepertinya tidak akan membantu masalahku. Tapi, kenapa buku ini hadir dengan begitu misteri? Tidak ada pilihan selain menyelesaikannya. Awal-awal sedikit membosankan, tetapi benarkah yang aku baca ini? Amanda adalah penghuni rumah ini dulu dan kamar ini adalah kamar dia. Kakaknya mati karena dijadikan tumbal oleh ayahnya. Amanda melihat langsung kejadiaan itu, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Amanda dan keluarga dulunya tinggal di kawasan elit, karena usaha ayahnya bangkrut terpaksa rumah tersebut dijual dan tinggal di rumah ini. Ayah Amanda begitu frustasi dengan kebangkrutannya sehingga mengambil jalan sesat itu agar bisa kaya lagi.

Tanganku terus membuka halaman buku itu dan sampai pada halaman terakhir. Aku sudah mati!!! Sampaikan kepada ibuku apa yang kau tahu.

Tiba-tiba, seorang gadis dengan wajah pucat bagai tak berdarah melayang-layang di langit kamar dan perlahan turun menghampiriku yang sudah kaku dan kelu di pinggiran ranjang. Dekat semakin dekat dan dekat lagi dan lagi-lagi semuanya terlihat gelap.

***

            Aargh.. dua kali aku pingsan gara-gara hal yang sulit aku percaya. Sebelumnya aku tak pernah pingsan walau dijemur di tengah panasnya matahari. Dua hari berturut-turut aku pingsan karena mendengar suara yang tak tau asalnya dan terakhir ditemui setan. Tentu aku tidak mau mendengar ataupun melihat setan lagi. Kalau aku mengabaikan pesan Amanda itu jelas setannya akan selalu menghantuiku. Dua hari aku sudah merasa gila apalagi kedepannya. Tidak ada pilihan lain, pertama yang harus aku lakukan mencari keberadaan ibunya. “Wah.. mama tak tahu di mana alamat rumah penghuni yang dulu. Kalau tidak salah mereka dulu hanya mengontrak di sini.” “Mama pasti tahu kan pemilik rumah ini sebelum kita membelinya?” “Tentulah, tuh rumahnya di depan komplek kita.” Mama terlihat bingung dan aku berlalu dengan cepat.

Tidak menemukan kesulitan berarti, aku berhasil menemukan alamat lengkap orang tua Amanda. Walau lima puluh ribuku melayang dengan paksa oleh ibu makelar rumah itu. Tidak ada yang gratis di dunia ini, tanya alamat saja pakai uang juga. Tak apalah, demi kedamaianku.

***

Hari ini tepat hari ketiga aku tinggal di rumah ini, suasana seram masih saja terasa di kamarku. Tanpa menunda lagi, aku langsung mencari alamat rumah orang tua Amanda. Tidak sulit dicari karena rumahnya terletak di pinggir jalan raya. Luar biasa, rumah yang mewah sekali. Sepertinya dengan mengorbankan dua anaknya dia bisa lebih sukses dari semula, memang jalan iblis itu sangat menggiurkan.

Saat ingin mendorong pagar, tiga orang satpam menghampiriku. Gila saja, masa bertamu harus membuat izin terlebih dahulu. Dasar orang kaya, sok sibuk! Aku bingung harus berkata apa supaya satpam-satpam ini percaya kalau aku ada urusan penting dengan orang rumah itu. Aku melihat seorang perempuan paruh baya berdiri di balkon. Mungkin dia keluar karena mendengar aku dan tiga satpam ribut di luar.

“Sebaiknya kamu pergi, jangan membuat keributan di sini” satpam mendorong sampai aku hampir terjatuh.

“Ibu…!! saya ke sini karena Amanda!” aku berteriak keras ke arah perempuan paruh baya itu. Aku lihat ibu itu sedikit terkejut, “Biarkan dia masuk.” kata perempuan itu. Sepertinya tiga satpam itu tidak rela membukakan aku pagar, tetapi kau kalah satpam.

“Apa kau teman Amanda? Andaikan iya, kamu pasti tahu kan bahwa Amanda sudah meninggal.”

“Bukan, saya bukan teman Amanda. Tetapi saya penghuni rumah ibu dulu dan saya menemukan buku ini di kamar saya.”

Aku meletakkan buku harian Amanda di meja dan ibu itu mengambilnya. Aku rasa dia akan mengerti tanpa diceritakan sedikitpun dan aku enggan menceritakan kalau Amanda belum bisa tenang dalam kuburnya karena arwahnya masih saja ada bahkan tampak di hadapanku. Ibu itu memandangiku tajam, entah apa yang dia rasakan. Aku rasa dia sudah sampai di halaman yang berisikan anaknya tewas karena dijadikan tumbal.

“Amanda takut kalau ibu akan menjadi korban berikutnya. Oleh karena itu, dia menyuruh saya menemui ibu dan menyerahkan buku ini.”

Ibu itu tidak menjawab apa-apa atas pernyataanku, dia menangis seakan tidak percaya terhadap apa yang dilakukan suaminya.

“Apa yang harus aku lakukan??” ibu itu sedikit berteriak ke arahku. Dengan jujur aku menggelengkan kepala karena aku juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Ibu itu histeris, aku harap dia bisa terima apa yang sudah terjadi. Akupun berniat untuk pergi karena tugasku selesai.  Beranjak dari tempat dudukku, aaarrrggggggggggggghh….!!! sebuah teriakan kesakitan jelas sekali terdengar. Aku kaget setengah mati dan ibu bangun dari duduknya dan berlari ke sebuah kamar. Tidaaak!! Suara yang keras dari kamar itu. Akupun memberanikan diri masuk ke kamar dan apa yang aku lihat semoga saja ini adalah terakhir. Laki-laki yang seumuran dengan ibu tadi tewas dengan leher tersayat keris yang dipegangnya. Aku yakin dia adalah ayah Amanda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: