Marianaramadhani's Blog

KISAH NINI KUDAMPAI DAN SI ANGUI (Asal Mula Gunung Batu Hapu)

pada Agustus 18, 2011

Dalam sebuah desa yang jauh terpencil, tinggalah seorang perempuan tua yang bernama Nini Kudampai dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Si Angui. Ayahnya Si Angui telah lama meninggal dunia, sehingga dia dengan ibunya tinggal berdua-duaan. Adapun Si Angui sebagai anak tunggal satu-satunya itu sangat disayangi ibunya, sehingga segala apa saja yang diminta Si Angui kepada ibunya selalu diperturutkan.

 

Pada suatu hari Si Angui meminta kepada ibunya agar dia diberi seekor ayam putih, seekor babi hutan dan seekor anjing putih. Ketiga binatang ini akan dijadikan teman bermain oleh Si Angui. Permintaan Si Angui itupun segera dikabulkan ibunya, sehingga setelah beberapa hari saja Si Angui sudah mempunyai seekor ayam putih, babi putih, dan anjing putih.

 

Seperti kebiasaannya Si Angui pada tiap-tiap pagi selalu bermain-main di pekarangan rumahnya denga ketiga ekor binatang kesayangannya itu. ketika Si Angui sedang asyiknya bermain-main itu lewat di depan rumahnya seorang saudagar orang Keling yang membawa barang-barang dagangannya. Saudagar itu memandang kepada Si Angui yang sedang bermain-main. Setelah ia memandang Si Angui, ia pun berhenti di depan rumah itu dan terus memperhatikan Si Angui seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

 

Kiranya betul juga, bahwa diri Si Angui itu sangat menarik perhatiannya. Saudagar orang Keling itu rupanya tidak saja ahli berdagang, tetap juga seperti seorang ahli filsafat. Menurut pengetahuannya pada diri Si Angui terdapat bustan yang akan membawa keberuntungan dalam penghidupan. Tidak saja bustan itu menunjukkan tanda-tanda keberuntungan terhadap diri anak itu sendiri, akan tetapi juga yang memelihara anak itupun tentu akan ikut mendapat keberuntungan pula. Di antara tanda-tanda itu yang ada pada diri si Angui ialah tampan wajah tenang dan bersih, ubun-ubun lubang, dahi lurus, bentuk kuku panjang serta berbunga, dan tahi lalat terletak bawah dagu.

 

Maka timbullah dalam pikiran saudagar Keling itu untuk meminta Si Angui akan dijadikan sebagai anak angkatnya.

 

Maka dengan tidak berpikir panjang lagi saudagar bangsa Keling itu pun segeralah ke pekarangan rumah Nini Kudampai. Setelah masuk ke dalam rumah ia pun berkata kepada Nini Kudampai, ibu kandung Si Angui:

 

Hamba ini adalah seorang saudagar yang berasal dari negeri Keling. Maksud hamba datang ke sini ialah untuk memohon kepada ibu, agar anak laki-laki ibu ini dapat diserahkan kepada hamba.”

 

Mendengar itu Nini Kudampai menjadi keheran-heranan, lalu ia bertanya:

 

“Anakku Si Angui akan diambil? Tidak! Tidak dapat! Aku hanya sendirian di rumah ini. Jika Si Angui tidak ada, siapakah lagi yang menemani aku di rumah? Dan siapa pula yang menolong aku bekerja.”

 

“Ya, bu! Hamba mengerti maksud ibu. Tetapi Si Angui tidak hamba jadikan pesuruh. Si Angui akan hamba bawa ke negeri Keling dan hamba jadikan sebagai anak sendiri. Maklumlah hamba hanya seorang diri pula, tidak beristri dan tidak beranak,” demikian ujar saudagar Keling itu menjelaskan keinginannya kepada Nini Kudampai.

 

“Sekali pun kau jadikan anak sendiri, aku tetap tidak dapat mengizinkannya,”jawab Nini Kudampai dengan keras.

 

Mendengar itu minta dirilah saudagar bangsa Keling itu meninggalkan rumah Nini Kudampai karena sia-sia maksudnya. Akan tetapi rupanya karena ia kenal betul dengan tanda-tanda baik diri Si Angui maka hasrat hatinya untuk memelihara Si Angui itu tidak juga padam.

 

Dengan tidak putus asa setelah beberapa hari kemudian, ia datang lagi ke rumah Nini Kudampai untuk meminta Si Angui dijadikan anak angkatnya. Akan tetapi serupa  juga dengan kedatangannya yang pertama usaha yang kedua ini pun gagal pula. Akhirnya timbullah akalnya membujuk hati Si Angui dengan tidak setahu Nini Kudampai ibunya sendiri. Bujukannya itu ternyata berhasil. Setelah diketahui oleh saudagar bangsa Keling itu bahwa Si Angui ingin sekali ikut dengan dia ke negeri Keling, maka ditemuinyalah sekali lagi Nini Kedampai untuk memohon yang ketiga kalinya.

 

“Hamba datang ke sini untuk ketiga kalinya. Mudah-mudahan ibu suka mengabulkannya, agar Si Angui diserahkan kepada hamba untuk dijadikan anak angkat,”demikian ujar saudagar Keling itu.

 

Nini Kudampai pun segeralah menanya anaknya:

 

“Hai Angui! Apakah engkau suka bilamana engkau dibawa saudagar ini ke negeri Keling? Di sana engkau dijadikan sebagai anak angkatnya.”

 

“Ya, bu! Saya suka saja! Apabila saya sudah beruntung di negeri Keling itu, saya akan pulang jua pada akhirnya,” demikian jawab Si Angui kepada ibunya.

 

Pada akhirnya Nini Kudampai pun terpaksalah menyerahkan anaknya kepada saudagar bangsa Keling itu. betapa gembiranya hati saudagar itu karena keinginannya terkabul. Suka hatinya tiadalah terperikan.

 

Suatu pagi yang cerah berangkatlah saudagar bangsa Keling itu ke negerinya membawa Si Angui, dilepaskan Nini Kudampai dengan perasaan sedih karena berpisah dengan anak yang disayanginya.

 

Sebelum Si Angui itu meninggalkan ibunya ia pun masih sempat berpesan, katanya: “Ibu,! Peliharakan ayam, babi, dan anjing putih itu. sebab saya pada akhirnya akan pulang juga.”

 

Sesudah beberapa hari lamanya saudagar bangsa Keling dengan Si Angui berlayar di lautan, pada akhirnya tibalah di Negeri Keling.

 

Benar juga kiranya bahwa saudagar bangsa Keling itu tidak mempunyai isteri dan anak. Si Angui pun dijadikan sebagai anak angkatnya dan sangat disayangi oleh saudagar Keling itu.

 

Setelah beberapa tahun kemudian Si Angui pun semakin dewasa, akan tetapi belum juga terlihat tanda-tanda keberuntungan bagi Si Angui dan saudagar itu sendiri. Saudagar itu masih percaya bahwa ilmu firasatnya akan terbukti juga pada akhirnya. Maka teruslah dipeliharanya Si Angui seperti biasa.

 

Lama-kelamaan tanda-tanda keberuntungan itu tidak terlihat juga pada diri Si Angui ataupun bagi saudagar itu. Malahan saudagar itu tampaknya berangsur-angsur melarat. Sebaliknya Si Angui yang membawa keberuntungan itu, kiranya anak yang pemalas belaka. Kerjanya setiap hari hanya bermain-main. Setelah bermain-main itu tidur beberapa jam lamanya. Di sambping itu suka sekali memboroskan uang saudagar tersebut serta makan yang banyak sekali.

 

Melihat perangai Si Angui yang sangat merugika itu, saudagar itupun memberikan peringatan kepada Si Angui. Tetapi peringatan itu tidak dihiraukannya. Maka timbullah amarah saudagar itu kepada Si Angui. Pada suatu hari diusirlah Si Angui dari rumahnya. Maka terpaksalah Si Angui keluar dari rumah saudagar itu dengan perasaan sedih.

 

Sejak itu nasib Si Angui terlunta-lunta hidupnya di negeri Keling yang asing baginya itu.

 

Si Angui pun menjadi orang peminta-minta yang setiap saat menadahkan tangannya menanti belas kasihan orang. Hidupnya kian hari kian melarat. Setelah beberapa lamanya ia menjadi seorang peminta-minta itu, ia pun terkenanglah kepada ibunya di kampung dan hatinya pun bertambah sedih jadinya. Maka timbullah niatnya ingin pulang kembali. Tetapi bagaimana akal mencari uang, tidak ada memiliki biaya untuk pulang ke kampung halaman.

 

Si Angui pun menjadi menyesal dan timbullah keinsyafan diri sendiri. Maka dengan berdaya upaya dimulailah bekerja sebagai kuli.

 

Untuk mendapat upah yang banyak ia pun bekerja siang dan malam dengan tidak mengenal lelah. Beberapa tahun lamanya ia bekerja sebagai kuli, akhirnya denga uang simpanannya yang sedikit-sedikit terkumpul, dimulailah berdagang. Dari dagangannya yang kecil dan sederhana, akan tetapi dengan penuh kerajinan dan kehematannya, perdagangannya pun menjadi besar.

 

Akhirnya Si Angui pun terkenallah di negeri Keling sebagai saudagar yang tidak ada tandingannya. Malahan saudagar-saudagar bangsa Keling sendiri kalah perdagangannya denga Si Angui. Si Angui menjadi seorang saudagar yang kaya raya.

 

Ada pun saudagar bangsa Keling yang memelihara Si Angui dahulu mendengar bahwa Si Angui telah menjadi saudagar yang terkenal kekayaannya, malah melebihi kekayaannya sendiri. Ia pun menyesal mengusir Si Angui pada waktu dahulu. Sekali pun hatinya ingin kembali mendekati Si Angui, tetapi ia takut kalau Si Angui akan mengusirnya. Maka terpaksalah ia berdiam diri saja.

 

Si Angui yang telah menjadi seorang saudagar yang kaya raya itu, pada suatu hari membeli sebuah kapal besar untuk dipergunakannya sebagai kapal yang membawa pulang ke benuanya. Karena ia sudah rindu sekali dengan ibunya.

 

Sebelum ia pulang ke benuanya, ia pun berpikir lebih baik kawin dahulu di negeri Keling, karena di benuanya tentu tak ada siapa yang akan menjadi isterinya. Oleh karena ia merasa dirinya orang yang paling kaya dan terkenal di negeri Keling itu, maka ia pun melamar seorang puteri Raja Keling. Adapun raja yang mengetahui akan kekayaan Si Angui, seorang saudagar besar itu, tentu saja gembira menerima lamaran tersebut.

 

Begitu pula puteri raja itu sendiri. Adapun puteri raja itu, konon adalah seorang gadis yang tercantik di seluruh negeri Keling. Maka perkawianan Si Angui dengan puteri Raja Keling yang sangat cantik itu pun dilaksanakan dengan meriahnya. Pesta besar-besaran diadakan. Selama empat puluh hari empat puluh malam diadakan pesta untuk meramaikan perkawinan tersebut. Sejak Si Angui kawin dengan puteri raja Keling itu, ia mengangkat dirinya sebagai putera raja dengan bergelar Bambang Padmaraga.

 

Beberapa hari kemudian niat Bambang Padmaraga (Si Angui) untuk pulang ke benua asalnya itu dilaksanakannya. Isterinya beserta berates-ratus anak buah kapal yang besar itu pun bersiap-siap untuk berangkat. Segala perbekalan di jalan pun disiapkan untuk pelayaran yang beberapa bualan lamanya. Setelah siap semuanya maka kapal Bambang Padmaraga yang besar itu pun berlayarlah meninggalkan negeri Keling menuju benua asal tempat tinggal ibunya, Nini Kudampai.

 

Setelah beberapa bulan lamanya kapal itu berlayar di lautan Hindia, akhirnya tibalah di muara benua. Pada keesokan harinya kapal Bambang Padmaraga itu pun berlabuhlah di pesisir benua asalnya.

 

Tersebutlah cerita Nini Kudampai, ibu Si Angui yang mendengar kedatangan anaknya dengan kapal yang besar dan membawa isteri yang sangat cantik parasnya, maka larilah ia teropoh-gopoh menyambut anaknya. Beserta ia lari itu tidak lupa Nini Kudampai membawa seekor ayam putih, seekor babi putih dan seekor anjing putih kepunyaan Si Angui. Setelah ia tiba di dekat kapal itu pun ia berteriak dengan gembiranya: “Kursemangat………………….. anakku datang!!! Kursemangat anakku datang!!!”

 

Ketika Si Angui (Bambang Padmaraga) memandang kepada ibunya yang tua itu dengan pakaian compang-camping seperti orang minta-minta, ia pun merasa sangat malu kepada isterinya. Apalagi ketika ia membandingkan diri isterinya dengan pakaian yang gemerlapan itu dengan pakaian ibunya yang buruk serta kotor, bertambahlah perasaan malunya itu.

 

Maka dengan perasaan marah ia perintahkan kepada pengiringnya untuk mengusir orang tua itu. Betapa terkejutnya Nini Kudampai menerima usiran anaknya itu tidaklah terperikan sedih rasanya.

 

Pada ketika itu masih sempat Nini Kudampai itu berseru:

 

“Hai, anakku! Aku ini ibumu Nini Kudampai, mengapa aku kau suruh usir? Inilah ayam, babi, dan anjing putihmu!”

 

Akan tetapi perkataan ibunya itu sedikit pun tiada diindahkan Si Angui. Malahan ia perintahkan agar kepalnya dipaling haluan untuk berlayar kembali ke negeri Keling. Nini Kudampai yang diusir itupun sangatlah sedih dan kecewa hatinya. Setelah dilihatnya kapal Si Angui tidak ada tanda-tanda lagi akan kembali padanya ia pun barariang (bamentera, menurut cerita masyarakat Banjar, yaitu mantera dalam Bahasa Banjar). Dengan perasaan yang sangat sedih dan menyesal. Di pejamkan matanya dan mulutnya pun bergerak-gerak membaca mantera:

 

Riang-riang ari pujangga…………………!

Riang-riang air pakulun………………….!

 

Barakat aku asal turunan kusuma.

 

Barakat aku asal disambah didungkul urang.

 

Mudahan dalam dunia ini jua.

 

Si Angui manarima kadurhakaannya!

 

Asa dua talu……………………………..!

 

Asa dua talu……………………………..!

 

Talanjur salalu……………………………!

 

Belum habis terdengar mantera orang tua itu, maka dengan sekejap mata saja datanglah angin ribut, disertaidengan petir dan guntur bagai membelah bumi layaknya. Kilat sambung-menyambung dan udara pun menjadi gelap gulita kerananya. Kapal Si Angui yang sedang mulai menuju ke laut terombang-ambing menjadi pecah dan hancur berderai. Sebagian dari badan kapal tempat Bambang Padmaraga dengan isterinya itu terdampar di darat yang terletak di desa dalam Kabupaten Tapin, berubah menjadi gunung batu. Hingga saat ini gunung itu masih ada dan dinamakan Gunung Batu Hapu.

Sumber cerita: Syamsiar Seman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: