Marianaramadhani's Blog

Sastra Bandingan (Perbandingan Laila Majnun dengan Nisan Berlumur Darah)

Laila Majnun merupakan sebuah novel karya Nizami yang berlatarkan di Jazirah Arab dan merupakan sebuah novel yang terkenal sepanjang masa. Nisan Berlumur Darah, sebuah cerita rakyat yang berasal dari Martapura, Kalimantan Selatan, Indonesia. Sebuah cerita rakyat yang tidak begitu meluas di Indonesia, karena cerita ini awalnya disebarkan hanya secara lisan sehingga cerita itu hanya menyebar di sekitar Kalimantan Selatan saja. Namun, seiringnya teknologi ada beberapa penulis blog Kalimantan Selatan yang menuliskan cerita ini, tetapi sampai sekarang belum ada penulis-penulis Kalimantan Selatan yang membukukannya.

Laila Majnun dan Nisan Berlumur Darah dari segi garis besar cerita memiliki persamaan yang tidak begitu jauh  yaitu, berkisar cerita kasih yang tak sampai. Di mana tokoh perempuannya dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuannya. Namun, dari dua cerita tersebut terdapat beberapa perbedaan.

Pertama, perbedaan latar tempat. Laila Majnun berlatar di Jazirah Arab, sedangkan Nisan Berlumur Darah berlatar di Martapura, Kalimantan Selatan. Sehingga budaya yang tersirat dalam dua cerita tersebut pasti berbeda.

Kedua, tokoh utama dalam Laila Majnun bernama Qais dan Laila. Sedangkan tokoh utama dalam Nisan Berlumur Darah bernama Mashor dan Fatimah.

Ketiga, Qais dan Laila saling jatuh cinta ketika mereka bertemu di majlis ilmu (sekolah).  Sedangkan Mashor dan Fatimah saling jatuh cinta karena Mashor merupakan seorang pembantu di rumah Fatimah yang satu sama lain selalu bertemu dan tumbuhlah rasa cinta mereka berdua dengan seiringnya waktu.

Keempat, cinta Qais dan Laila terhalang oleh orang tuanya Laila yang tidak setuju Qais dan Laila menjalin hubungan karena bagi orang Laila hal tersebut merupakan sebuah aib yang mencemarkan nama baik keluarga. Laila pun akhirnya dipinggit dan mereka terpisah. Hal tersebut ternyata membuat Qais gelisah dan lama kelamaan dia menjadi gila (majnun) dengan terus bersajak dan memanggil-manggil nama Laila.  Melihat keadaan seperti itu, ayah Qais, Syed Omri yang merupakan orang kaya, terkenal, dan tersohor mencoba melamar Laila untuk Qais. Tetapi, keluarga Laila menolak dengan alasan malu mempunyai menantu yang gila (majnun). Akhirnya Laila pun dinikahkan laki-laki pilihan orang tuanya.

Sedangkan Mashor dan Fatimah terhalang cintanya karena keluarga Fatimah begitu memegang adat keluarga, yaitu mereka hanya menikahkan anak gadisnya dengan orang yang sederajat. Fatimah adalah anak orang kaya, jadi dia hanya dinikahkan dengan orang kaya juga. Mashor pun akhirnya ditugaskan untuk menjaga kebun karet dan ladang yang jauh dari rumah Fatimah. Hingga pada suatu hari, Fatimah dinikahkan dengan laki-laki pilihan orang tuanya, yaitu Muhdar. Seorang laki-laki kaya raya yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Fatimah.

Kelima, dalam Laila Majnun, Laila meninggal karena penyakitnya. Mendengar berita kematian Laila tersebut, Qais pergi menziarahi kubur Laila dan menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, Qais meninggal sambil memeluk kubur Laila. Sedangkan dalam cerita Nisan Berlumur Darah, Mashor meninggal karena luka bakar yang dideritanya. Mashor terluka karena menolong Fatimah saat rumahnya terbakar. Berita meninggalnya Mashor tidak diketahui oleh Fatimah, namun akhirnya Fatimah mengetahui kabar duka tersebut dari pembantunya. Fatimah sangat terpukul hatinya mengetahui pemuda yang melindungi dan dicintainya telah tiada. Menangislah Fatimah sejadinya. Setelah semua orang terlelap tidur, jam tiga subuh tanpa sepengetahuan yang lain Fatimah keluar rumah. Dia tidak dapat menyimpan perasaan rindu dan dukanya. Tanpa menunggu siang dia bertekad harus menemukan kuburan Mashor. Dia tidak yakin kekasihnya sudah meninggal jika tidak menemukan kuburannya langsung. Dia seberangi sungai Martapura dan berjalan menyisir jalan setapak. Dia masih ingat letak kebun karet keluarganya ketika ayahnya pernah mengajak sewaktu kecil. Malam itu hari hujan dengan deras tetapi tidak menyurutkan hati Fatimah, di dalam hatinya hanya ada satu nama Mashor. Dipikirannya hanya ada satu wajah Mashor, pemuda yang sangat mengerti dirinya. Setelah tiba di kebun karet keluarganya, Fatimah tanpa sadar dan mungkin karena ilusi yang muncul karena obsesinya bertemu Mashor, dia melihat Mashor berdiri tersenyum kepadanya di tengah rintikan hujan. Tanpa berpikir panjang Fatimah berlari ingin memeluk tubuh kekasihnya melepaskan segala kerinduannya. Fatimah menabrak tubuh lelaki itu hingga terjatuh tanpa disadari pagar yang terbuat dari bambu yang melindungi kuburan Mashor menusuk tubuh Fatimah tepat di dadanya. Darah mengucur dan menetes di atas kubur Mashor dan melumuri nisannya. Fatimah meninggal dengan senyum dia yakin menemukan cintanya.

 

Iklan

« CORETAN KULIAH


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: